Lompat ke isi utama
x

Profile

Gempa bumi dan tsunami Aceh, pada tanggal 26 Desember 2004, adalah bencana terbesar - dalam skala dan dampaknya - di abad ini. Setelah kejadian itu, sepertinya berbagai bencana lain terjadi di seluruh dunia. Tingkat kerentanan yang tinggi mengharuskan kita untuk menjadi bangsa yang tangguh terhadap bencana. Setiap negara perlu memobilisasi sumber dayanya dalam mengantisipasi peristiwa di masa depan, mengurangi korban dan potensi kerugian, dan secara efektif memulihkan kondisi pasca bencana untuk keberlanjutan pembangunan nasional. Salah satu sumber daya yang penting adalah kapasitas iptek bencana.

Memanfaatkan kapasitas iptek dalam pengurangan risiko bencana juga merupakan mandat kerangka kerja global Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana (SFDR) 2015-2030 dan UU 24/2007 tentang Manajemen Bencana. Peran kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi mulai dari memahami dinamika ancaman, pengurangan korban, pengembangan kapasitas, hingga perumusan kebijakan. Dalam konteks ini, peran universitas menjadi sangat sentral. Terlebih lagi, di daerah rawan bencana, universitas adalah ujung tombak pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi sementara pada saat yang sama melahirkan sumber daya manusia yang cakap untuk menghadapi berbagai potensi ancaman.

Sebagai universitas yang secara langsung terkena dampak tsunami 2004, Syiah Kuala University (Unsyiah) sangat menyadari peran dan tanggung jawabnya dalam menghasilkan upaya ilmiah dan ilmiah berbasis teknologi demi keselamatan generasi masa depan dari ancaman bencana. Terlebih lagi, Aceh memiliki jejak kaki paling lengkap di dunia untuk penelitian bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Untuk mengatasi tuntutan dan keragaman serta potensi ancaman bencana, Syiah Kuala University telah diberi mandat oleh Pemerintah Indonesia untuk menyelenggarakan Program Magister (S2) Studi Bencana. Program Studi Magister Bencana (S2) Syiah Kuala University adalah program multi-disiplin yang digunakan sebagai dasar untuk merancang strategi untuk penilaian bencana yang efektif termasuk mengurangi dampak buruk dari bencana, menanggapi bencana, dan pulih dari bencana.

Kejadian bencana berturut-turut membutuhkan para ahli yang memiliki kompetensi khusus dalam manajemen bencana. Sejauh ini, personel ini telah terserap dari berbagai disiplin ilmu terkait lainnya sehingga upaya penanggulangan bencana tidak dapat diharapkan secara maksimal. Dalam hal ini, Program Magister (S2) Ilmu Bencana di Syiah Kuala University telah berkontribusi pada peningkatan kompetensi pekerja di bidang bencana. Lulusan program ini telah bekerja di berbagai instansi pemerintah dan swasta terkait dengan manajemen bencana.

Meskipun demikian, jumlah lulusan yang dihasilkan masih sangat sedikit dibandingkan dengan meningkatnya kebutuhan para pakar bencana. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia Indonesia di bidang bencana ke tingkat pascasarjana (yaitu gelar magister atau tingkat doktoral) mutlak diperlukan.

------------------------

Aceh earthquake and tsunami, on December 26, 2004, was the biggest disaster - in its scale and impact - in this century. After the incident, it seemed like various other disasters took place all over the world. The high level of vulnerability requires us to become a resilient nation against disasters. Every country needs to mobilize its resources in anticipating future events, reducing casualties and potential losses, and effectively restoring post-disaster conditions for the sustainability of national development. One crucial resource is the capacity of disaster science and technology.

Utilizing the capacity of science and technology in disaster risk reduction is also a mandate of the global framework of Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDR) 2015-2030 and Law 24/2007 on Disaster Management. The role of science and technology needs ranging from understanding the dynamics of the threat, victim reduction, capacity building, to the formulation of policy. In this context, the role of universities becomes very central. Moreover, in disaster-prone areas, the university is the spearhead of the development and application of science and technology while at the same time giving birth to capable human resources to deal with various potential threats.

As a university that was directly affected by the 2004 tsunami, Syiah Kuala University (Unsyiah) was well aware of its role and responsibility in produce scientific and technological - based scientific endeavors for the sake of the safety of future generations from the threat of disaster. Moreover, Aceh has the most complete footprint in the world for disaster research, specifically the earthquake and tsunami.

To solve the demands and diversity and the potential threat disaster, Syiah Kuala University has been given the mandate by the Government of Indonesia to host Master Program (S2) of Disaster Studies. Syiah Kuala University Disaster Masters Study Program (S2) is a multi-disciplinary program that is used as the foundation for designing strategies for effective disaster assessment including mitigating the adverse effects of disasters, responding to disasters, and recovering from disasters.

The successive disaster events require experts who have specific competencies in disaster management. So far, this personnel has been absorbed from various other related disciplines so that disaster management efforts cannot be maximally expected. In this case, the Master Program (S2) of Disaster Science at Syiah Kuala University has contributed to the increased competence of workers in the field of disaster. The graduates of the program have worked in various government and private agencies related to disaster management.

Nevertheless, the number of graduates produced is still very less compared to the increasing needs of disaster experts. Therefore, increasing the competency of Indonesian human resources in the field of disaster to the postgraduate level (i.e. master's degree or doctoral level) is absolutely necessary.

Sekilas Unsyiah
Simak pencapaian Universitas Syiah Kuala dari sejak pendiriannya hingga kini

Posting Terbaru